Tak sekadar peringatan, juga penyelamatan
Tangsel, bukti.id – Dalam situasi gempa bumi, beberapa detik dapat menjadi kesempatan berharga untuk menyelamatkan nyawa. Kereta perlu melambat dengan aman, rumah sakit bersiap menghadapi keadaan darurat, dan anak-anak di sekolah harus mengetahui tindakan yang tepat untuk melindungi diri. Karena itu, peringatan dini gempa tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Peringatan harus terhubung dengan respons yang cepat, terukur, dan sesuai kondisi di lapangan.
Baca juga: BRIN Buka Pendaftaran Program Riset Sosial Humaniora. Ditutup 15 Oktober
Prinsip inilah yang menjadi fokus kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Jepang dalam mengembangkan End-to-End Earthquake Early Warning and Response System (E2E EEWRS), sebuah sistem peringatan dini dan respons gempa yang dirancang menghubungkan teknologi pendeteksian dengan kesiapsiagaan dan tindakan keselamatan.
Perkembangan kerja sama tersebut dibahas dalam The 2nd Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting and Workshop Research Project for Development of End-To-End Earthquake Early Warning and Response System di Gedung Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, baru-baru ini. Seperti dikutip website brin.go.id, Senin (12/10/2026)
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Andi Eka Sakya sekaligus pimpinan project, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) tahun anggaran 2026 yang mempertemukan peneliti Indonesia dan Jepang bersama akademisi, lembaga pemerintah, mitra industri, serta pemangku kepentingan terkait.
Dari sinyal peringatan menuju tindakan penyelamatan
Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dalam kegiatan ini menjalankan tugas sebagai Plt. Deputi Geofisika, Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan, bahwa keberhasilan sistem peringatan dini tidak semata-mata ditentukan oleh kecepatan teknologi mendeteksi gempa.
“Sinyal yang sampai ke perangkat dalam hitungan detik merupakan pencapaian teknologi. Namun, ketika sinyal tersebut memungkinkan sistem transportasi melambat dengan aman, rumah sakit bersiap, atau anak-anak di kelas melakukan drop, cover, and hold, maka peringatan tersebut dapat menyelamatkan nyawa,” ujar Ardhasena.
Ardhasena menegaskan pentingnya menghubungkan informasi ilmiah dengan tindakan yang dapat dilakukan masyarakat dan pengelola infrastruktur. Menurutnya, sistem peringatan dini perlu didukung jaringan sensor yang kuat, algoritma yang andal, mekanisme penyebaran informasi secara cepat, rekayasa struktur, serta pemahaman masyarakat mengenai prosedur keselamatan.
“Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan teknologi tidak hanya dinilai dari kemampuannya menghasilkan sinyal peringatan, tetapi juga dari kemampuannya membantu manusia mengambil keputusan yang tepat ketika gempa terjadi,” imbuh dia.
Belajar dari Jepang, memperkuat kesiapsiagaan Indonesia
Pengalaman Jepang dalam mengembangkan sistem peringatan dini dan respons bencana menjadi salah satu sumber pembelajaran penting dalam kolaborasi ini.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Adrin Tohari, menekankan bahwa Indonesia dan Jepang menghadapi tantangan kebencanaan yang sama, terutama gempa bumi dan tsunami. Oleh karena itu, pertukaran pengetahuan dan pengembangan teknologi bersama menjadi penting untuk memperkuat upaya pengurangan risiko bencana.
“Nilai sebenarnya dari sistem peringatan dini, yang dalam hal ini gempa bumi, akan terwujud ketika teknologi, kebijakan, dan nilai-nilai masyarakat dapat terhubung secara utuh untuk memperkuat pengurangan risiko gempa,” ujar Adrin.
Senior Representative Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia Office, Sato Akira, juga mendorong agar proyek memasuki tahun kedua dengan pengujian lapangan yang lebih kuat, baik terhadap teknologi maupun materi edukasi yang dikembangkan. Menurutnya, capaian ilmiah dan teknis perlu berjalan seiring dengan upaya memastikan hasil penelitian memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan risiko bencana dan penguatan ketangguhan masyarakat.
Baca juga: Waspadai Tingginya Potensi Bencana Geologi Indonesia. Ini Penjelasan BRIN
“Saya berharap seluruh tim proyek tetap memikirkan jalur dari riset menuju implementasi sosial seiring proyek ini berjalan. Kemitraan, keahlian, dan pengalaman yang dikembangkan melalui proyek ini diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan terhadap bencana di Indonesia,” ujar Sato.
Sementara itu, perwakilan Japan Science and Technology Agency (JST), Prof Iguchi Masato, menekankan pentingnya mengintegrasikan seluruh komponen penelitian menjadi satu sistem yang utuh. Pengembangan tersebut perlu disertai validasi dan penerapan praktis, termasuk bukti kuantitatif mengenai potensi pengurangan korban jiwa dan kerugian ekonomi.
“Proyek ini perlu menunjukkan bagaimana berbagai kegiatan riset dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini dan respons gempa yang utuh, sekaligus memberikan bukti kuantitatif mengenai potensi pengurangan korban jiwa dan kerugian ekonomi,” ungkap Iguchi.
Empat komponen riset dari hulu hingga hilir
Adrin menjelaskan, selama tahun pertama pelaksanaan, konsorsium telah mengembangkan sejumlah komponen yang saling mendukung. Pertama, penguatan observasi cepat, estimasi gerakan tanah, dan algoritma deteksi gempa. Kedua, peningkatan infrastruktur penyebaran peringatan secara real time serta pengembangan aplikasi untuk sektor industri. Ketiga, penyusunan pedoman respons, protokol keselamatan, serta materi pembelajaran dan edukasi berbasis pengalaman. Keempat, penguatan manajemen proyek dan sinergi lintas lembaga agar seluruh komponen dapat dikembangkan secara terkoordinasi.
Dalam workshop dua hari, kata Adrin, para peserta membahas beragam aspek, mulai dari evaluasi kinerja sistem peringatan dini pada gempa Kumamoto di Jepang pada Juli 2026, kebijakan dan regulasi sistem peringatan dini gempa di Indonesia, hingga pengembangan dasbor untuk menganalisis potensi pengurangan korban.
Pembahasan juga mencakup pemanfaatan virtual reality (VR) untuk latihan evakuasi, pendidikan keselamatan di sekolah, jaringan seismik padat berbasis sensor berbiaya rendah, serta penggunaan kecerdasan artifisial (AI) dalam pengembangan sistem peringatan dini.
Selain itu, dibahas pula penerapan sistem pada gedung tinggi, simulasi perilaku keruntuhan bangunan nonrekayasa, dan pemetaan risiko seismik pada infrastruktur strategis di Jawa Barat.
Baca juga: BRIN Kembangkan VR untuk Simulasi Bencana dan Latihan Lansia
Menurut dia, ragam topik tersebut memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini yang dikembangkan tidak hanya berurusan dengan deteksi gempa, tetapi juga dengan bagaimana informasi diterima, dipahami, dan diterjemahkan menjadi tindakan keselamatan.
Kolaborasi dampak terukur
Selain pengembangan teknologi, pertemuan JCC membahas penguatan kerja sama antarlembaga, termasuk rencana penyesuaian mekanisme kerja sama menjadi perjanjian bilateral antara BRIN dan masing-masing organisasi yang terlibat. Pendekatan ini diharapkan mempermudah pengaturan pertukaran data, kekayaan intelektual, serta kontribusi setiap institusi.
Ketua Proyek E2E EEWRS, Andi Eka Sakya, mengapresiasi kontribusi seluruh pihak dalam evaluasi dan diskusi yang berlangsung selama pertemuan.
“Berbagai masukan, pengalaman, dan diskusi yang kita lakukan selama kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memperkuat pelaksanaan proyek ke depan. Saya berharap kolaborasi dan dukungan seluruh pihak dapat terus berlanjut dalam menghadapi berbagai tantangan hingga tercapainya tujuan proyek,” ujar Andi Eka.
Melalui kolaborasi Indonesia–Jepang ini, BRIN mendorong pengembangan sistem peringatan dini yang semakin terintegrasi, mulai dari data dan teknologi hingga pedoman respons dan edukasi masyarakat. Tantangan berikutnya adalah memastikan keandalan teknologi melalui pengujian dan validasi, sekaligus membuktikan manfaatnya dalam mengurangi risiko bencana.
Pada akhirnya, keberhasilan sistem peringatan dini bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah sinyal dikirimkan, melainkan seberapa baik sinyal itu membantu masyarakat dan berbagai institusi bertindak sebelum terlambat. (eko-brint)
Editor : heddyawan