BRIN Dorong Energi Terbarukan agar Kualitas Hasil Panen dan Tangkapan Ikan Optimal

bukti.id
Kolase rutinitas di tempat penjualan ikan segar dan Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Tata Sutardi (kolase: bukti.id)

Bandung, bukti.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung proses pascapanen di sektor perkebunan dan perikanan. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi energi, menjaga kualitas produk, menekan biaya operasional, serta meningkatkan nilai tambah hasil produksi, khususnya di wilayah pesisir dan sentra perkebunan.

Hal tersebut menjadi pokok bahasan dalam webinar nasional bertema “Memanfaatkan Sumber Energi Terbarukan untuk Mendukung Proses Pascapanen pada Sektor Perkebunan dan Perikanan”, yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN secara daring, Kamis (15/10/2026). 

Baca juga: Dai Sejuta Mimbar. Kerja Bareng BRIN dan BPKH

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Universitas Padjadjaran, dan Universiti Sains Malaysia.

Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Tata Sutardi menjelaskan, sejumlah riset BRIN telah memasuki tahap hilirisasi dan berpotensi diterapkan secara lebih luas. Salah satunya, adalah pengembangan fasilitas pengering dan pembuat es (ice maker) berbasis energi panas matahari (solar thermal) untuk mendukung kebutuhan pascapanen di wilayah pesisir. 

Teknologi tersebut dirancang sesuai dengan kebutuhan setempat dan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Kegiatan percontohan telah dilakukan melalui kerja sama dengan Pertamina di Indramayu. 

“Pada beberapa topik, riset yang ada di pusat riset kami sudah memasuki tahap hilirisasi. Kami berharap hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak nyata,” ujar Tata.

Tata bilang, BRIN juga menjalin kerja sama dengan KKP untuk mengembangkan inovasi yang dapat mendukung kesejahteraan nelayan. Salah satu upayanya adalah pengembangan ekosistem green marine, termasuk pemanfaatan motor listrik untuk kegiatan penangkapan ikan harian dan penyediaan infrastruktur pendukung. 

Energi yang tersedia dari sistem tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menunjang pengolahan hasil perikanan. Kebutuhan energi dalam pengolahan hasil perikanan menjadi perhatian penting, terutama di sejumlah lokasi produksi yang masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik. 

Baca juga: Unibraw dan BRIN Ubah Limbah Pertanian Jadi Produk Kimia Bernilai Tambah

Sementara unsur dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Budi Yuwono menjelaskan, ketersediaan energi diperlukan untuk mendukung rantai dingin, penyediaan es, penyimpanan, hingga pengolahan hasil tangkapan. Ia juga menyoroti persoalan kehilangan hasil pascapanen pada komoditas tongkol, cakalang, tuna, dan kembung.

“Energi adalah key factor dan juga enabler dalam pascapanen hasil perikanan,. Energi terbarukan berpeluang mendukung rantai dingin, pengeringan, dan pengolahan hasil perikanan.” ujar Budi. 

Kebutuhan energi untuk proses pascapanen tidak hanya terdapat pada sektor perikanan, tetapi juga perkebunan. Sarifah Nurjanah dari Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa proses penyulingan minyak atsiri membutuhkan energi panas yang hingga kini masih banyak bersumber dari kayu bakar.

Budi juga menjelaskan, energi panas matahari dan biomassa dari sisa produksi berpotensi menjadi alternatif pengganti bahan bakar konvensional. Pemanfaatan kedua sumber energi tersebut juga dapat meningkatkan efisiensi proses. 

Baca juga: Pemulihan Pascabencana. Enam Unit Arsinum Karya BRIN Dikirim Bertahap

Pemanfaatan energi surya untuk mendukung proses pascapanen juga dikembangkan melalui teknologi pengeringan rumput laut. Majid Khan bin Majahar Ali dari Universiti Sains Malaysia memaparkan, pengembangan pengering rumput laut hibrida berbasis energi surya dengan kapasitas nominal lima ton. 

Teknologi ini dirancang untuk membantu proses pengeringan sekaligus menjaga kualitas rumput laut. Penerapannya juga berpotensi diperluas untuk mengeringkan komoditas lain, seperti ikan dan tanaman herbal.

“Melalui kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra industri, pemanfaatan energi terbarukan diharapkan dapat memperkuat prosespasca panen serta mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan dan pelaku usaha perkebunan,” harap Tata. (eko-brint)

Editor : heddyawan

Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru