Semarak Festival Gamelan Kahuripan di Kalangan Generasi Muda Sidoarjo
Festival ke IV diikuti 33 group jenjang SD hingga SMA
Sidoarjo, bukti.id – Ini merupakan gelaran kali ke empat pelaksaan Festival Gamelan Kahuripan di Sidoarjo dengan mengusung tema “Gamelan untuk Meditasi: Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa“.
Patut dibanggakan, yakni festival yang diinisiasi Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo dan mendapat dukungan penuh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tersebut, tahun ini menunjukkan peningkatan jumlah peserta. Yaitu, mencapai 33 grup dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Tahun lalu hanya diikuti 23 grup saja.
Kondisi itu menunjukan jika Dekesda dan Pemkab Sidoarjo berupaya mendorong generasi muda untuk melestarikan seni karawitan dan tembang sebagai budaya daerah melalui Festival Gamelan Kahuripan.
“Alhamdulillah pada tahun keempat ini peserta yang ikut lebih banyak. Artinya, minat generasi muda akan kesenian gamelan ini juga meningkat,” ujar Ketua Dekesda Sidoarjo, Ribut Wijoto saat sambutan di Pendopo Delta Wibawa, Sabtu belum lama ini.
Terkait dengan event tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, Ridho Prasetyo – hadir mewakili Bupati Sidoarjo Subandi dalam acara itu – mengatakan, Festival Gamelan Kahuripan bukan sekadar pertunjukan seni. Event itu menjadi ruang pertemuan antara seni, pendidikan, masyarakat, dan generasi muda.
“Festival Gamelan Kahuripan ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni semata, tetapi juga ajang mempertemukan seni, pendidikan, masyarakat, dan generasi muda dalam satu semangat agar kesenian tetap hidup, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan,” ujar Ridho.
Menurut dia, gamelan juga memiliki nilai penting dalam membentuk karakter peserta didik. Di dalam proses bermain gamelan terdapat nilai kebersamaan, kerukunan, kedisiplinan, kepekaan dalam mendengarkan, kemampuan menjaga harmoni, serta kesetiaan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
“Warisan budaya bukan hanya menjadi peninggalan harta benda, tetapi harus terus hadir sebagai pengalaman yang dijalani. Anak-anak perlu mengenal tembang dan karawitan, belajar tentang proses, keberanian, sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas daerah kita,” kata dia.
Ridho berujar, generasi muda perlu dikenalkan dengan tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka. Melalui festival ini, para siswa tidak hanya belajar tampil di hadapan publik, tetapi juga menjalani proses kerja sama, kedisiplinan, serta membangun kepekaan terhadap lingkungan budaya di sekitarnya.
Ridho menambahkan, Pemkab Sidoarjo bakal terus mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di Sidoarjo. Gamelan juga diharapkan tidak berhenti sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi lahirnya karya-karya baru.
Dia berharap kegiatan Festival Gamelan Kahuripan dapat semakin memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya daerah. Sekaligus memastikan warisan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Membahas gamelan, Ribut menyebutkan, festival gamelan menjadi ruang bagi para pelajar untuk tidak hanya menampilkan kemampuan bermusik, tetapi juga mengeksplorasi gamelan sebagai bagian dari pengalaman belajar seni dan budaya.
“Gamelan telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Keberadaan gamelan menunjukkan bahwa kesenian tersebut merupakan bagian dari kebudayaan dunia sekaligus memiliki kontribusi terhadap peradaban. Gamelan bukan hanya bagian dari kebudayaan kita, tetapi juga bagian dari kebudayaan dunia dan memiliki kontribusi terhadap peradaban dunia,” ujar Ribut.
Ribut juga menjelaskan bahwa gamelan memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Dalam sejarah perkembangan Islam di Tanah Jawa, gamelan turut digunakan oleh Walisongo sebagai bagian dari pendekatan dakwah kepada masyarakat.
“Gamelan juga memiliki peran besar dalam masuknya Islam di Tanah Jawa dan Nusantara. Walisongo menggunakan gamelan saat melakukan dakwah Islam di Tanah Jawa. Gamelan juga memiliki makna filosofis sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan. Karena itu, gamelan tidak hanya dapat dipandang sebagai seni pertunjukan, tetapi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia,” pungkas Ribut. (knis-kwan)
Editor : heddyawan