FGD Dosen Fisipol Unimal dan BRIN. Bahas Model Pemulihan Pascabencana
Lhokseumawe, bukti.id – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Malikussaleh bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) penelitian dengan judul “Inovasi Model Pemulihan Pascabencana Berbasis Kependudukan untuk Memperkuat Resiliensi dan Perlindungan Sosial Adaptif Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam”.
FGD berlangsung di Ruang VIP Pujasera PIM, Kota Lhokseumawe, dihadiri Geuchik Gampong Blang Reuling, Isbahannur, Geuchik Gampong Riseh Teungoh, Syukri, Anggota DPRK Aceh Utara Tajuddin, Ketua LSM Bytra Lhokseumawe, Mahadi Buchari, Ketua MAA, dosen Unimal serta masyarakat korban banjir, Senin (5/10/2026).
Pemantik FGD, dosen Ilmu Politik Fisipol Unimal, Bobby Rahman MSi membahas pentingnya literasi dan resiliensi masyarakat dalam menghadapi serta memulihkan diri setelah bencana banjir.
Menurut Bobby, informasi yang diperoleh masyarakat dapat membantu mereka dalam proses pemulihan. Sumatera, khususnya Aceh, memiliki potensi bencana yang membutuhkan pendekatan literasi kebencanaan secara spesifik.
“Wilayah Sumatera, khususnya Aceh, memiliki sejarah bencana besar seperti tsunami 2004 yang membentuk memori kolektif dan struktur sosial,” ungkap dia.
Dijelaskan, salah satu tantangan dalam pemulihan adalah dinamika sosial yang dapat memengaruhi kondisi sosial-ekonomi lokal, termasuk bagaimana informasi diterima, diproses, dan diubah menjadi tindakan nyata oleh masyarakat.
Bobby mengatakan informasi merupakan salah satu alat bertahan hidup dalam situasi krisis.
“Maka literasi adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang tepat saat krisis,” terang dia.
Menurut dia, literasi bencana mencakup pemahaman terhadap tanda-tanda alam, sejarah kerentanan lokal serta prosedur operasional standar, termasuk jalur evakuasi.
“Pemerintah harus menguatkan literasi digital kepada masyarakat, misalnya informasi bencana dan informasi logistik pada masa awal bencana,” ujar dia.
Salah seorang korban banjir di Paloh Lada, turut menyampaikan pengalaman saat menghadapi banjir. Ia mengatakan masyarakat harus berupaya menyelamatkan diri ketika air naik secara tiba-tiba.
“Kami harus menyeberang ke tempat tinggi (bukit) untuk berlindung dari air besar. Karena air naik tiba-tiba, kami tidak tahu mau buat apa. Banyak masyarakat hanya pasrah menerima keadaan. Tapi pada saat ini, masyarakat juga bahu-membahu dan saling membantu,” cerita dia.
Dia menilai masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk bertahan secara mandiri ketika respons awal terhadap bencana belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh korban.
“Pemerintah pada saat awal belum mampu menanggulangi korban banjir, sehingga kita harus bertanggung jawab pada diri sendiri,” keluh dia.
Sementara itu, Geuchik Gampong Blang Reuling, Isbahannur, menceritakan proses pemulihan masyarakat setelah banjir.
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih karena sebagian besar masyarakat menggantungkan mata pencaharian sebagai pekebun dan petani.
“Masyarakat belum ada mata pencaharian baru, karena banyak mata pencaharian masyarakat belum mampu pulih dan mereka tidak dapat mencari nafkah seperti biasa,” ucap dia.
Dia menilai pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara menyeluruh. (eko-brint)
Editor : heddyawan