Kepala BRIN: Diplomasi Sains Tak Boleh Terisolasi
STS Forum 2026 di Kyoto, Jepang
Kyoto, bukti.id – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan diplomasi sains harus tetap terbuka dan tangguh di tengah perubahan geopolitik dan persaingan teknologi global.
Menurut Arif, penguatan kemampuan sains dan teknologi nasional perlu berjalan seiring dengan kerja sama internasional.
Hal tersebut disampaikan Arif dalam diskusi panel “The Future of Science Diplomacy: Bump or Fork?” pada Science and Technology in Society (STS) Forum 2026 di Kyoto, Jepang, Senin (05/10/2026).
Arif menilai diplomasi sains saat ini menghadapi tantangan sekaligus perubahan mendasar dalam lingkungan global.
“Dari perspektif Indonesia, saya akan mengatakan: keduanya. Kita memang sedang menghadapi hambatan (bump). Namun, mungkin juga kita sedang berada di persimpangan (fork), karena lingkungan tempat diplomasi sains bekerja telah berubah secara mendasar,” ujar Arif.
Arif bilang, perkembangan sains dan teknologi kini semakin berkaitan dengan daya saing ekonomi, keamanan nasional, kedaulatan teknologi, dan geopolitik. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat negara-negara menutup diri. Diplomasi sains tetap penting sebagai ruang untuk membangun kepercayaan dan menghadapi tantangan bersama.
“Diplomasi sains memungkinkan negara-negara membangun kepercayaan dan bekerja sama menghadapi tantangan bersama, bahkan ketika terdapat perbedaan di bidang lain,” kata dia.
Arif menekankan pentingnya peran negara berkembang dalam kerja sama sains dan teknologi. Negara berkembang tidak cukup hanya menjadi sumber data, lokasi penelitian, atau penerima teknologi, tetapi perlu ikut menghasilkan pengetahuan dan teknologi bersama mitra internasional.
“Negara-negara berkembang tidak boleh hanya menjadi sumber data, lokasi, atau penerima teknologi. Kita harus semakin menjadi pencipta bersama pengetahuan dan teknologi,” tegas dia.
Menurut Arif, ketangguhan dalam diplomasi sains bukan berarti menutup diri. Indonesia justru perlu memperluas kemitraan, memperkuat kerja sama internasional, dan tetap terhubung dengan komunitas ilmiah global.
“Ketangguhan bukan berarti menutup pintu. Ketangguhan berarti mendiversifikasi kemitraan, memperkuat kerja sama internasional, dan tetap terhubung dengan komunitas ilmiah global,” ujar dia.
Ditambahkan, penguatan kemampuan sains dan teknologi nasional harus berjalan beriringan dengan kerja sama internasional. Kemampuan nasional yang kuat akan menjadikan Indonesia mitra yang lebih kuat, sementara kemitraan internasional dapat turut memperkuat kemampuan nasional.
“Negara dengan kemampuan sains yang lebih kuat dapat menjadi mitra internasional yang lebih kuat. Dan kemitraan internasional yang lebih kuat pada gilirannya dapat memperkuat kemampuan nasional,” kata dia.
Ke depan, imbuh Arif, Indonesia mendorong diplomasi sains yang memungkinkan negara-negara dengan kepentingan dan tingkat pembangunan berbeda untuk bekerja sama sebagai pencipta dan pengembang bersama, tanpa mengabaikan kepentingan dan ketahanan masing-masing. (eko-brint)
Editor : heddyawan