Mendikdasmen kunker ke Sidoarjo
Sidoarjo, bukti.id – Penguatan pendidikan inklusif dan pembelajaran berbasis sains serta teknologi menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam meningkatkan mutu pendidikan. Upaya ini dilakukan untuk memperluas akses pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, sekaligus memperkuat pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti saat meresmikan gedung baru SD Muhammadiyah/Mumtaz 12 Taman, Sidoarjo, baru-baru ini.
Baca juga: Pemkab Sidoarjo Sikat Habis Jembatan Liar yang Hambat Normalisasi Sungai
Abdul Mu’ti menilai peningkatan mutu pendidikan harus diikuti dengan pemerataan akses belajar bagi seluruh anak, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Sekolah perlu menyediakan lingkungan yang mendukung agar setiap anak dapat belajar dan mengembangkan potensinya.
“Keberadaan peserta didik berkebutuhan khusus yang belajar bersama dengan penuh rasa percaya diri menjadi bukti nyata kesetaraan akses pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut Abdul Mu’ti, praktik pendidikan inklusif yang sudah dikembangkan sejumlah lembaga pendidikan perlu diperluas ke berbagai daerah. Pendekatan ini diharapkan memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar sesuai potensi dan kebutuhannya.
Selain memperluas akses pendidikan, pemerintah mendorong penguatan pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sejak jenjang pendidikan dasar. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat fondasi sains dan teknologi peserta didik sejak dini.
Dalam pengembangan Sekolah Nasional Inklusif, pendekatan pembelajaran itu diperluas menjadi STEAM-S, dengan menambahkan unsur seni (Art) dan olahraga (Sport). Model tersebut diharapkan memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan akademik, kreativitas, keterampilan fisik, serta minat dan bakat.
Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman di tengah persoalan kekerasan serta perundungan di satuan pendidikan.
Mendikdasmen bilang, pencegahan perundungan memerlukan keterlibatan empat unsur, yakni sekolah dan guru, keluarga atau orang tua, masyarakat, serta media. Keempatnya memiliki peran dalam membentuk perilaku dan budaya saling menghormati di lingkungan anak.
Sekolah dan guru perlu membangun suasana belajar yang ramah, sementara keluarga berperan mendampingi anak di rumah. Masyarakat diharapkan ikut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, sedangkan media perlu menghadirkan konten edukatif dan memperhatikan dampaknya terhadap perilaku anak.
Baca juga: Jelang Tahun Baru 2027. Pemkab Sidoarjo Kebut Frontage Road Buduran
Abdul Mu’ti menyebut, pemerintah telah meluncurkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman beserta regulasi turunannya sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan peserta didik.
Dijelaskan pula bahwa pengembangan pendidikan inklusif sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 5 ayat (4) dalam undang-undang tersebut mengatur hak warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan khusus.
Peresmian gedung baru SD Muhammadiyah/Mumtaz 1–2 Taman menjadi momentum untuk menegaskan bahwa peningkatan sarana pendidikan perlu berjalan seiring dengan perbaikan kualitas pembelajaran, pemerataan akses, dan perlindungan peserta didik. (knis-kwan)
Editor : heddyawan