x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

Gegara Dokumen Bocor Duluan, Menkeu Ogah Jawab Detil ke Publik

Avatar bukti.id

Pemerintahan

Jakarta, bukti.id – Hiruk pikuk pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap bahan-bahan pokok (sembako), belakangan menjadi menu utama di setiap obrolan.

Uniknya, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, belum bisa menjelaskan secara rinci kepada publik terkait wacana pengenaan PPN terhadap sembako.

Sri Mulyani menjelaskan, jika masalah PPN sembako masih merupakan sebuah wacana yang ada di dalam draf revisi Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), yang hingga saat ini belum disahkan oleh DPR RI melalui Rapat Paripurna.

“Kami tentu dari sisi etika politik belum bisa melakukan penjelasan ke publik sebelum ini dibahas – dengan Komisi XI DPR RI – karena itu adalah dokumen publik yang kami sampaikan kepada DPR melalui Surat Presiden,” ungkap Menkeu saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, terkait Pembahasan Pagu Indikatif Kemenkeu dalam RAPBN 2022 di Gedung DPR RI, Jakarta, kemarin.

Bahkan, menurut Sri Mulyani, jangankan disahkan di dalam Rapat Paripurna, dibahas dengan mitra Kemenkeu dalam hal ini Komisi XI DPR RI saja belum dibahas sama sekali.

‘Bendahara Negara' itu mengakui, situasinya menjadi polemik di tengah masyarakat karena ternyata dokumennya telah bocor.

“Sehingga kami tidak dalam posisi untuk menjelaskan keseluruhan arsitektur dari perpajakan kita, (dokumen) yang keluar sepotong-sepotong yang kemudian di-blow up seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak atau bahkan tidak mempertimbangkan situasi hari ini,” kilah Sri Mulyani.

Namun, Sri Mulyani menegaskan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tak akan mengeluarkan sebuah kebijakan begitu saja, tanpa ada pembahasan dan persetujuan dari DPR RI, khususnya Komisi XI sebagai mitra Kemenkeu.

“Fokus kita hari ini pemulihan ekonomi, jadi kita betul-betul menggunakan seluruh instrumen APBN kita untuk pemulihan ekonomi dari sisi demand side dan supply side,” kata Sri Mulyani.

Sekedar tahu saja, rencana pengenaan PPN terhadap barang kebutuhan pokok telah bocor ke ruang publik. Rencana tersebut tertuang dalam Pasal 4A draf revisi UU KUP.

Dalam draf beleid tersebut, barang kebutuhan pokok serta barang hasil pertambangan atau pengeboran dihapus dalam kelompok jenis barang yang tidak dikenai PPN.

Dengan adanya penghapusan tersebut, berarti barang itu akan dikenakan PPN. (hea)

Editor : heddyawan

Artikel Terbaru
Selasa, 03 Nov 2026 19:10 WIB | Peristiwa

Jangan Remehkan Temulawak. Ini Hasil Penelitian BRIN

BRIN kembangkan bahan aktif antibakteri dari temulawak dengan mengombinasikan melalui teknologi berbasis nanoteknologi. ...
Selasa, 03 Nov 2026 17:30 WIB | Peristiwa

Pembangunan Inklusif. Lamongan Gencarkan Program Responsif Gender

Lamongan terus perkuat komitmen wujudkan pembangunan inklusif dan berkeadilan melalui strategi PUG. ...
Selasa, 03 Nov 2026 13:11 WIB | Ekonomi

Tingkatkan Efisiensi. Petambak Wajib Kenali Internet untuk Segala

Petambak Lamongan didorong manfaatkan penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT). ...
Selasa, 03 Nov 2026 09:10 WIB | Peristiwa

Nggak Disiplin, 15 PPPK Paruh Waktu Pemkab Sidoarjo Tak Diperpanjang Kontrak

Dinilai tidak disiplin, 15 orang PPPK paruh waktu di lingkup Pemkab Sidoarjo, tidak dipanjangan kontraknya.  ...
Selasa, 03 Nov 2026 07:05 WIB | Wakil Rakyat

DPR RI Dorong Sertifikasi TKDN untuk Perluas Pasar IKM Sidoarjo

Pentingnya TKDN bagi IKM Sidoarjo agar mampu tembus pasar pengadaan pemerintah.  ...
Senin, 02 Nov 2026 15:15 WIB | Peristiwa

BRIN Minta Petani Waspadai Begomovirus yang Bisa Ancam Produksi Sayuran

BRIN ingatkan petani Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Begomovirus, yang berpotensi mengganggu produksi hortikultura. ...