Kepala BRIN: Riset dan Inovasi Harus Jadi Kekuatan Utama Indonesia Maju

bukti.id
Ilustrasi Harteknas

Hakteknas ke-31

Jakarta – Tepat tanggal 10 Agustus, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Tahun ini, merupakan Harteknas ke-31 yang menjadi momentum untuk memperkuat riset dan inovasi sebagai fondasi utama kemandirian, daya saing, dan kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. 

Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen memastikan hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dihilirisasi menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat industri nasional, serta mendukung kebijakan berbasis bukti.

Baca juga: BRIN Berharap Masyarakat Pantau dan Kelola Data Keanekaragaman Hayati

Melalui rilis resmi, dinyatakan di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, BRIN menegaskan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, dan berdaya saing.

Peringatan Hakteknas – sesuai Keputusan Presiden Nomor 71 Tahun 1995 – menjadi pengingat atas tonggak penting kebangkitan teknologi nasional sekaligus penghargaan terhadap para ilmuwan, peneliti, perekayasa, akademisi, pelaku industri, serta seluruh insan iptek yang terus berkontribusi membangun kemandirian bangsa melalui inovasi. 

Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan, Hakteknas bukan sekadar peringatan atas sejarah keberhasilan bangsa dalam mengembangkan teknologi, tetapi juga refleksi atas tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa hasil riset benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan nasional.

"Hari Kebangkitan Teknologi Nasional adalah momentum untuk memperkuat keyakinan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan kita menguasai ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, serta menghadirkan inovasi yang memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Riset harus berdampak, inovasi harus memberikan manfaat, dan teknologi harus menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat," kata sambutan Arif Satria, terkait peringatan Harteknas ke-31, dalam rilis tersebut.

Tema Hakteknas tahun ini adalah Teknologi Berdampak untuk Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur, menegaskan bahwa teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi bangsa. Teknologi tidak cukup hanya canggih, tetapi harus mampu menjadi solusi atas persoalan masyarakat, memperkuat kemandirian dan daya saing nasional, memperluas pemerataan manfaat pembangunan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, riset dan inovasi harus didorong agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat, industri, dan pemerintah.

Menurut Arif, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks, mulai dari ketahanan pangan, energi, kesehatan, pengelolaan sumber daya alam, perubahan iklim, transformasi digital, hingga penguatan industri berbasis teknologi tinggi. Seluruh tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui riset yang berkualitas, kolaboratif, dan mampu diterjemahkan menjadi kebijakan maupun inovasi yang dapat diterapkan secara luas.

“Karena itu, BRIN terus memperkuat ekosistem riset nasional melalui pengembangan infrastruktur riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, komunitas, serta mitra internasional. Sinergi tersebut diarahkan agar proses penelitian berlangsung lebih cepat, lebih efektif, dan mampu menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah ekonomi maupun sosial,” urai dia.

Baca juga: Perkuat Kolab, BRIN dan PT PAL Kembangkan Green Shipyard

Arif menjelaskan, transformasi BRIN dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong integrasi sumber daya riset nasional sehingga menghasilkan berbagai inovasi di bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, teknologi digital, kebencanaan, kelautan, antariksa, hingga biodiversitas. Berbagai hasil penelitian tersebut terus diarahkan menuju hilirisasi agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan dunia usaha.

"Keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau paten yang dihasilkan. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana hasil riset mampu memberikan dampak nyata, yaitu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, melahirkan lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta menjadi dasar penyusunan kebijakan publik berbasis bukti," tambah dia.

Atrif bilang, BRIN terus mendorong hilirisasi hasil riset melalui berbagai skema kolaborasi dengan industri, termasuk lisensi teknologi, penelitian bersama, co-development, pendampingan inovasi, hingga pengembangan startup berbasis teknologi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk, layanan, maupun teknologi yang memiliki manfaat ekonomi.

Selain menghasilkan inovasi, BRIN juga terus memperkuat budaya ilmiah di tengah masyarakat melalui komunikasi sains, literasi teknologi, dan keterlibatan publik dalam berbagai program riset. Menurut Arif, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah peneliti, tetapi juga oleh tumbuhnya masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

Baca juga: Kolab Unilak, BRIN dan ECOTON. Rancang Strategi Komunikasi Risiko Mikroplastik dan Kampanye GEMARIKAN

Memasuki usia Hakteknas ke-31, BRIN mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan inovasi sebagai budaya bersama. Pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan masyarakat diharapkan terus memperkuat kolaborasi sehingga ekosistem riset Indonesia semakin produktif dan mampu melahirkan solusi bagi berbagai tantangan pembangunan nasional.

“Semangat Hari Kebangkitan Teknologi Nasional harus menjadi energi bersama untuk membangun Indonesia yang semakin mandiri dan berdaulat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kolaborasi, kreativitas, dan inovasi yang berkelanjutan, kita harus memastikan bahwa riset dan teknologi tidak berhenti sebagai pengetahuan atau temuan, tetapi hadir sebagai solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat daya saing dan kemandirian bangsa, serta membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang semakin adil dan makmur,” pungkas Arif.

Hakteknas ke-31 diperingati dengan serangkaian kegiatan yakni, Anugerah Talenta Unggul Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026 yang diselenggarakan bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). 

Pada kesempatan yang sama juga akan diresmikan Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) sebagai program sinergi riset dan sinkronisasi kebijakan nasional yang menghasilkan riset terapan lintas sektoral. (eko-brint)

Editor : heddyawan

Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru