Kolab Unilak, BRIN dan ECOTON. Rancang Strategi Komunikasi Risiko Mikroplastik dan Kampanye GEMARIKAN
Gresik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru, serta lembaga advokasi lingkungan Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON) mengkaji strategi komunikasi publik yang seimbang.
Kolab riset mereka ini berangkat dari meningkatnya kesadaran publik mengenai bahaya mikroplastik, khususnya di kalangan generasi muda melalui media sosial, berpotensi memicu kekhawatiran berlebihan terhadap keamanan pangan laut.
Riset bertajuk “Eksperimen Dissonance Reduction pada Kampanye Kontradiktif: Ancaman Mikroplastik Versus Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan” itu, bertujuan merancang edukasi risiko mikroplastik secara transparan, tanpa mengurangi minat masyarakat dalam mengonsumsi ikan melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN).
Ketua Tim Peneliti, Afred Suci menjelaskan, kajian ini berfokus pada dinamika persepsi Gen Z yang makin kritis terhadap isu lingkungan dan kesehatan. Diketahui, Afred Suci merupakan akademisi dan dosen dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) Pekanbaru, yang pernah bertindak sebagai Ketua Tim Peneliti dalam proyek kolaborasi riset bersama BRIN
“Kita mencoba mengaitkan dua isu ini, apakah isu mikroplastik yang berkembang di kalangan Gen Z melalui media sosial dapat mereduksi gerakan makan ikan. Yang kami khawatirkan akan muncul ketakutan,” ujar Afred, saat berkunjung ke markas ECOTON di Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, dinukil akhir Juli kemarin.
Afred bilang, BRIN mengakui bahwa studi mengenai dampak persepsi mikroplastik terhadap keberhasilan program pangan nasional seperti GEMARIKAN masih tergolong baru. Oleh karena itu, pendekatan lintas disiplin – menggabungkan sains lingkungan dan ilmu komunikasi publik – diterapkan untuk menghasilkan formula kampanye yang edukatif.
Afred menegaskan, luaran dari riset ini tidak bermaksud mengaburkan fakta atau menutupi ancaman bahaya mikroplastik bagi ekosistem.
“Masyarakat tetap berhak mendapatkan fakta ilmiah secara utuh. Namun, penyampaian informasinya harus terukur agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan yang memicu penurunan konsumsi gizi berimbang dari ikan,” papar dia.
Pada sisi lain, dalam diskusi ilmiah di ruang utama, Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi menekankan, belum ada penelitian yang mengonfirmasi bahwa kemasan plastik menjadi sumber tunggal atau dominan masuknya mikroplastik ke tubuh manusia.
Berdasarkan temuan ECOTON, kontaminasi partikel kecil tersebut telah terdeteksi di berbagai lini lingkungan, termasuk udara di 11 kota besar, serta makanan dan minuman harian.
“Ada tiga sumber utama yang kami pelajari, yaitu udara, makanan, dan minuman. Belum ada penelitian yang secara spesifik menyebut sumber dominannya berasal dari kemasan plastik,” terang Prigi.
Ditambahkan, material plastik yang terbuang ke alam tidak akan hilang, melainkan terus terdegradasi menjadi partikel mikro hingga nanoplastik. Kondisi ini makin krusial mengingat hingga saat ini pemerintah belum menerbitkan regulasi mengenai batas aman paparan mikroplastik bagi tubuh manusia. (cebe-eko)
Editor : heddyawan