x iklan_super_apps
x iklan_super_apps

Penyakit Jantung Penyebab Utama Kematian Jemaah Haji Indonesia

Avatar bukti.id
bukti.id
Jumat, 16 Jun 2023 14:10 WIB
Religi
bukti.id leaderboard

Makkah, bukti.id – Innalillahi Wa’innalillahi Ro’jiun. Hingga berita ini diunggah, yakni hari ke-24 operasional misi haji Indonesia di Arab Saudi jumlah jemaah yang meninggal bertambah menjadi 68 orang. Berdasar data yang dipaparkan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), Jumat (16/6/2023), angka itu tertinggi sejak 2017, dalam periode yang sama.

Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga merilis, dari 68 jemaah yang wafat, sebanyak 30 jemaah atau hampir separuh di luar kategori berisiko tinggi (risti). Kementerian Kesehatan mengkategorisasikan jemaah menjadi dua, yakni risti dan nonristi.

Terdapat 73,72 persen jemaah masuk kategori risti, yaitu lanjut usia atau lansia (65 tahun ke atas) dan atau pengidap penyakit bawaan sejak dari Tanah Air dari total 210.680 jemaah haji reguler.

Kepala KKHI Makkah, dr Edi Supriyatna menjelaskan, penyebab jemaah haji non-risti wafat adalah penyakit jantung, tepatnya syok kardiogenik dan infark miokard. Keduanya juga merupakan dua penyakit tertinggi yang menyebabkan kematian jemaah secara umum.

Ditambahkan, para jemaah nonristi itu tidak mendadak sakit jantung saat di Tanah Suci. Mereka sebenarnya sudah memiliki penyakit jantung di Tanah Air.

"Banyak jemaah haji tidak menyadari telah memiliki penyakit jantung," ungkap Edi melalui Media Center Haji (MCH).

Menurut data Penyelenggaran Kesehatan Haji di Arab Saudi 2023, ada tiga penyakit penyebab banyaknya jemaah haji wafat, antara lain penyakit infark miokard akut (20 kasus), syok kardiogenik (16 kasus), dan stroke (5 kasus) dari total 66 kematian per 15 Juni 2023.

Infark miokard akut adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh sumbatan pada arteri koroner. Syok kardiogenik adalah suatu kondisi di mana jantung tidak dapat memompa darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh, kondisi ini sering kali dipicu oleh serangan jantung berat.

Tim Medis KKHI Makkah, dr Aditya mengatakan, syok kardiogenik adalah salah satu fase akhir dari serangan jantung yang ditandai dengan kurangnya aliran darah ke organ tubuh akibat menurunnya curah jantung.

"Syok kardiogenik tidak terjadi dengan serta merta, ada beberapa faktor pemicu, terutama pada jemaah haji dengan risiko tinggi," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu.

Menurut dia, faktor risiko itu antara lain penyumbatan pembuluh darah jantung, hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi, dan perburukan dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sebelumnya hingga stres.

Karenanya, KKHI mengimbau jemaah haji yang rentan terkena penyakit jantung untuk menjaga kesehatan menjelang puncak ibadah haji pada 9 Zulhijjah nanti.

"Jemaah haji agar tidak memaksakan diri melaksanakan salat dan umrah di Masjidil Haram. Salat lima waktu dapat dilakukan di mushala hotelnya. Umrah sunah memerlukan persiapan fisik dan merupakan aktivitas ibadah yang berat," pesan Edi.

Aktivitas fisik yang berat, tambahnya, dapat mengakibatkan kelelahan dan memicu kekambuhan dan komplikasi dari penyakit kronis, seperti penyakit jantung.

"Karena itu, jemaah haji yang memiliki riwayat penyakit kronis agar menahan diri dari aktivitas ibadah yang berat di luar ruangan, seperti umrah sunnah dan salat di Masjidil Haram," tutur Edi.

Berdasarkan catatan, hingga Jumat pukul 09.00 waktu Arab Saudi, sebanyak 144 jemaah dirawat di KKHI Mekah (58,8%), 3 jemaah dirawat di KKHI Madinah (1,2%), 28 jemaah di RS Arab Saudi Madinah (11,4%), dan 2 jemaah di RSAS Jeddah. (hed)

Editor : heddyawan

bukti.id horizontal
Artikel Terbaru
Rabu, 17 Jul 2024 10:47 WIB | Pemerintahan
Adhy Karyono: pembahasan APBD-P Tahun 2024 Jatim, bakal tak terganggu oleh penggeledahan KPK di wilayah Jatim. ...
Rabu, 17 Jul 2024 08:41 WIB | Pemerintahan
AFF U-19 2024 digelar di Gelora Bung Tomo, Pemkot Surabaya membuat skema pembuangan sampah di sekitar lokasi. ...
Rabu, 17 Jul 2024 01:35 WIB | Nusantara
Panglima TNI merotasi sejumlah jabatan strategis di lingkungan TNI maupun BIN. ...