Bye...bye Tes Keperawanan di Rekrutmen Prajurit TNI AD

bukti.id
Proses eleksi calon Bintara TNI AD (foto: net)

Jakarta, bukti.id – Dalam proses rekrutan baru prajurit TNI-AD sudah tidak ada lagi tes atau pemeriksaan keperawanan bagi calon prajurit perempuan.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa, kepada jurnalis, di Jakarta, baru-baru ini.

Baca juga: Andika Perkasa Salat Idul Adha di Masjid Raya Patal Senayan

“Sudah sejak Mei lalu, mulai diterapkan dalam seleksi penerimaan Bintara di setiap Kodam,” ujar Jenderal Andika seperti dilansir Antara, Jumat (13/8/2021).

Perlu diketahui, Bintara merupakan jenjang dimana calonnya harus lulusan SMA atau sederajat, dengan usia rata-rata 18 tahun, dan lulus menjalani pendidikan di Sekolah Calon Bintara (Secaba), yang berlangsung selama lima bulan di Resimen Induk Kodam (Rindam) yang berada di setiap Kodam.

Khusus untuk calon prajurit wanita, setelah lulus seleksi di Kodam, maka akan menjalani Secaba di Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Pusdik Kowad) di Bandung. Lulusan Secaba akan berpangkat sersan dua.

KSAD Andika melanjutkan penghapusan tes keperawanan tidak hanya bagi calon prajurit, tapi juga sudah tidak diberlakukan lagi untuk calon istri dari prajurit pria yang mengajukan izin menikah.

“Kalau prajurit kita sudah memilih, ya sudah. Emang kita mau ngapain,” tukas KSAD Andika.

Di sisi lain, KSAD Andika menegaskan peniadaan aturan pemeriksaan genital atau kelamin, khususnya bagian dalam dari vagina dan cervix (rahim) untuk calon prajurit wanita.

Baca juga: Jenderal Andika: Saya masih Fokus Sebagai Panglima TNI

Tes tersebut untuk melihat kondisi hymen (selaput dara) apakah masih sempurna atau ruptured (sobek) seluruhnya ataupun sobek sebagian, adalah bagian dari perubahan untuk kemajuan yang diterapkan Angkatan Darat.

Sejumlah remaja putri mengikuti seleksi penerimaan prajurit TNI AD (foto: net)

Dalam kesempatan lain, KSAD Andika menyebutkan, tes tersebut dianggap tidak lagi memiliki relevansi terhadap tujuan pendidikan militer.

Baca juga: Partai NasDem Segera Komunikasi ke Tiga Kandidat

“Karena itu, yang tidak ada lagi hubungannya tidak perlu lagi,” tegas KSAD Andika.

Sebaliknya, sejumlah tes seperti buta warna, apakah calon mengidap penyakit atau kelainan yang bisa mengancam jiwa, justru semakin rinci dan ketat.

Untuk tes buta warna misalnya, kini selain menggunakan metode tes Ishira, juga ditambah tes Hardy-Rand-Rittler. Dengan dua tes buta warna, buta warna sebagian yang juga lazim diderita di Indonesia, bisa terdeteksi.

Dengan pemeriksaan kesehatan yang relevan namun lebih ketat itu, diharapkan lolos calon prajurit yang memiliki kesamaptaan (kesempurnaan, ketangguhan) jasmani yang terbaik untuk dibina menjadi prajurit yang mumpuni. (edd)

Editor : heddyawan

Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru