Jakarta, bukti.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan ekosistem jaringan stasiun bumi satelit penginderaan jauh nasional. Langkah ini krusial untuk mendukung program monitoring kebencanaan, penyediaan data penginderaan jauh nasional, serta layanan ground station as a service (GSaaS).
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Trihartjanto menekankan pentingnya riset dan inovasi keantariksaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Baca juga: BRIN Gandeng BNI Ventures. Bantu UMKM dan Startup Berbasis Riset Tembus Pasar Komersial
“Penguatan ekosistem keantariksaan nasional perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengembangan teknologi, penyediaan infrastruktur, pengelolaan data, hingga pemanfaatannya oleh berbagai sektor. Teknologi satelit harus mampu memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat, termasuk dalam mendukung kesiapsiagaan dan penanganan bencana,” ujar Heru, dinukil dari Siaran Pers BRIN Selasa (27/10/2026).
Menurut Heru, keterlibatan berbagai pihak lintas sektor mulai dari pemerintah, akademisi, hingga industri menjadi kunci agar hasil riset dapat diimplementasikan menjadi layanan yang bernilai guna dan berkelanjutan seperti GSaaS, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi antariksa nasional.
Mendukung ucapan Heru, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Hidayat Gunawan menjelaskan, stasiun bumi penginderaan jauh memiliki dua peran vital, yaitu sebagai direct reception system (DRS) untuk penerimaan langsung secara real-time dan virtual reception system (VRS).
Baca juga: BRIN Dorong Energi Terbarukan agar Kualitas Hasil Panen dan Tangkapan Ikan Optimal
Keberadaan DRS sangat penting untuk mendeteksi potensi bencana secara cepat, seperti memantau titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta erupsi gunung api.
“Data hotspot dari penerimaan langsung memungkinkan kita memantau potensi kebakaran hutan dan lahan secara cepat setelah satelit melintas. Jaringan stasiun bumi yang tersebar membuat cakupan pemantauan lebih luas dan berkesinambungan,” jelas Hidayat.
Baca juga: Dai Sejuta Mimbar. Kerja Bareng BRIN dan BPKH
Lebih dari sekadar mitigasi bencana, Hidayat menyebut data penginderaan jauh ini sebagai aset strategis nasional yang menjadi tulang punggung berbagai sektor penting, seperti kehutanan, pertanian, tata ruang, hingga kemaritiman.
“Dengan penguatan jaringan mandiri, Indonesia dapat menjamin ketersediaan data berkelanjutan tanpa harus terus bergantung pada penyedia luar negeri.” tutup Hidayat. (eko-brint)
Editor : heddyawan