x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

Data Bapanas Bikin DPR Panas. Impor Beras Disemprit

Avatar bukti.id

Wakil Rakyat

Jakarta, bukti.id – Alih-alih impor beras, hanya untuk urusan datapun masih compang-camping. Tak salah jika wakil rakyat semprit kebijakan impor yang bakal dilakukan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Reaksi keras ini ditunjukkan anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan.

Secara tegas Johan menolak kebijakan impor yang akan dilakukan Bapanas guna memenuhi ketersediaan pangan nasional. Karena, menurut dia, saat ini tidak ada yang valid lantaran data yang dimiliki pengelola pangan saat ini masih berbeda. Bahkan dia menyebut kebijakan itu kebijakan salah kaprah.

“Saya menolak kebijakan impor ini. Kebijakan impor ini menurut saya pak ketua, ini kebijakan salah kaprah. Karena didasari atas data yang tidak valid. Masing-masing pengelola baik ID food maupun Badan pangan tadi pak ketua, ini beda-beda datanya,” ujar Johan, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV dengan Bapanas, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia dan ID Food di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan (foto: net)

Selanjutnya, dia pun mengusulkan untuk membentuk Tim Panja atau digelar Focus Group Discussion (FGD) terkait dengan data yang bakal dijadikan acuan oleh pengelola pangan.

“Soal-soal data ini pak ketua, biar clear. Data mana yang kita jadikan acuan? Kalau betul kita tidak percaya kepada BPS, lantas data apalagi yang perlu kita pakai yang perlu kita percaya? Nah Kalau kita misalnya ingin punya satu data acuan. Mari kita sepakati bersama-sama. Undang semua stakeholder Komisi IV yang bicara tentang pangan ini,” pinta Johan, dikutip dpr.go.id.

Diskusi mengenai data ini, kata dia, perlu dilakukan untuk menentukan data acuan yang menjadi penentu kebijakan-kebijakan terkait dengan pangan nantinya.

“Kita sepakati ini data acuan kita, ini acuan produksinya dan kebutuhannya. Sehingga kita pun kalau kemudian terjadi impor kita tidak kemudian saling menyalahkan. Itulah kenapa saya hari ini karena kita tidak punya data acuan yang valid dan kita sepakati bersama, tidak saya tidak setuju kebijakan impor ini. Karena salah kaprah menurut saya,” cetus politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu. (hea)

Editor : heddyawan

Artikel Terbaru
Minggu, 18 Okt 2026 13:30 WIB | Peristiwa

BRIN Dorong Energi Terbarukan agar Kualitas Hasil Panen dan Tangkapan Ikan Optimal

BRIN dorong pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung proses pascapanen di sektor perkebunan dan perikanan. ...
Minggu, 18 Okt 2026 10:25 WIB | Peristiwa

Pelatihan Jurnalistik Batch#3. Kolab GMNI Surabaya Raya dan RLD Asah Nalar Kritis Berbasis Fakta

Pelatihan Jurnalistik Batch #3 kolaborasi DPC GMNI Surabaya Raya dan Rumah Literasi Digital di The Alana Hotel. ...
Minggu, 18 Okt 2026 08:15 WIB | Hukum

Kasus Korupsi Bupati Klaten. KPK Sita Tong Biru Berisi Uang Rp934 Juta

Drama lanjutan OTT di Klaten, penyidik KPK sita sebuah tong biru yang berisi uang Rp934 juta. Uang hasil korupsi? ...
Minggu, 18 Okt 2026 07:42 WIB | Ekonomi

Warga Jawa Timur Tak Perlu Cemas Soal BBM. Wagub Emil Pastikan Stok Aman

Wagub Emil: stok BBM di Jawa Timur dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. ...
Minggu, 18 Okt 2026 05:10 WIB | Ekonomi

Pemkab Lamongan Yakin, 2026 Produksi Padi Melimpah

Pada 2026, Pemkab Lamongan yakin mampu menghasilkan produksi padi melampaui capaian tahun sebelumnya, mencapai sekitar 1,335 juta ton. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 19:10 WIB | Peristiwa

Dai Sejuta Mimbar. Kerja Bareng BRIN dan BPKH

BPKH dan BRIN 'lahirkan' Dai Sejuta Mimbar, yakni edukasi rencana haji dan dakwah pakai platform digital. ...