Ki Bagong: Peteng Kabeh. Merusak Cagar Budaya wes kelewat batas.
Mojokerto – Menilik berbagai aksi massa yang terjadi di Nusantara dan cenderung mengarah pada kerusuhan, sejumlah budayawan Jawa Timur (Jatim) mengaku prihatin. Ngelus dada.
Terlebih, adanya pembakaran Gedung Negara Grahadi oleh orang yang tidak dikenal (OTK), mengingat bangunan tersebut merupakan Cagar Budaya alias Heritage milik Jawa Timur.
Baca juga: Hari Lahir Pancasila. FPK Nganjuk Blusukan Budaya ke Situs Bersejarah
Seiring tragedi itu, sejumlah budayawan Jatim menggelar pertemuan dan doa bersama untuk kedamaian Nusantara.
Acara hikmat nan sakral itu digelar di Situs Patirtan Jolotundo, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, baru-baru ini dan direspon positif oleh Forum Pamong Kebudayaan (FPK) Jatim.
Melalui Ketua FPK Jatim, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, karena aksi massa sudah diluar batas kewajaran, bahkan cenderung merusak dan menjarah termasuk Cagar Budaya dan benda purbakala.
Dikatakan, FPK Jatim tidak henti-hentinya memberi edukasi lewat media sosial terkait sanksi pidana bagi mereka yang merusak dan menjarah benda purbakala.
“Hanya dengan doa dan edukasi lewat media yang bisa kami lakukan, dan berharap aparat penegak hukum bisa mengendalikan kondisi saat ini,” ujar Ki Bagong.
Baca juga: FPK Jatim Apresiasi Ritual Candra Sela di Nganjuk
Terkait acara Doa untuk Kedamaian Nusantara, Ki Mukadi dari Kasepuhan Jolotundo sebagai inisiator acara, mengatakan pihaknya prihatin dengan kondisi negara saat ini yang sedang carut marut dengan beberapa aksi demo, yang diikuti dengan perusakan, pembakaran bahkan penjarahan.
“Kami sebagai pelaku budaya sangat prihatin dan menyesalkan apa yang terjadi di negara kita saat ini,” ujar Polo Mukadi di sela-sela acara.
Pernyataan dukungan juga disampaikan ketua Bidang Ritus FPK Jatim, Ki Herry Santoso yang menjelaskan, mengapa acara ini digelar di Jolotundo?
Baca juga: FPK Jatim Dorong Dibuat Payung Hukum untuk Lembaga Adat Desa
Herry mengatakan jika Petirtaan Jolotundo oleh beberapa budayawan, termasuk para tokoh spiritual, dianggap sebuah tempat yang sakral dan menjadi pusat aktivitas kebudayaan oleh para spiritualis.
“Jolotundo ini tempat yang sakral dan penuh dengan aura positif, sehingga tidak berlebihan jika kita melakukan doa bersama di sini,” tutup dia.
Acara diikuti beberapa budayawan dari Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya dan Malang ini, diakhiri dengan doa bersama lintas agama. (kwan-knis)
Editor : heddyawan