Palangka Raya, bukti.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyambut kedatangan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, yang melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Tengah.
Kedatangan Arif Satria dalam rangka membahas rencana operasi riset modifikasi cuaca, riset pemadaman, serta validasi produk satelit untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca juga: BRIN Bahas Integrasi Data Satelit dan Validasi Lapangan
Pertemuan antara Arif Satria, bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili Asisten Administrasi Umum, Sunarti, berlangsung di VIP Room Bandara Tjilik Riwut . Pertemuan juga dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Johni Sonder, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta kalangan akademisi.
Dalam pertemuan tersebut, Arif Satria memperkenalkan inovasi Riset Modifikasi Cuaca (RMC) berbasis Dumakron, yakni bahan semai awan hujan yang dikembangkan BRIN. Dumakron menggunakan material garam natrium klorida (NaCl) yang diolah menjadi partikel sangat halus berukuran 2–5 mikron.
“Dengan ukuran tersebut, bahan semai awan dapat disebarkan menggunakan pesawat nirawak atau drone tanpa memerlukan pesawat berukuran besar. Teknologi Dumakron ini dapat membuat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) lebih hemat biaya, efisien, dan efektif dibandingkan metode konvensional yang membutuhkan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk setiap penerbangan. Teknologi ini sebelumnya telah diuji dalam pelaksanaan OMC di Provinsi Sumatera Selatan," papar Arif Satria di Palangka Raya, dinukil Sabtu (7/11/2026).
Baca juga: BRIN Temukan Sejumlah Arkeologi yang Perkaya Sejarah Manusia
Selain inovasi untuk penanganan karhutla dari udara, BRIN juga mengembangkan teknologi pemadaman api dari bawah permukaan tanah, khususnya pada lahan gambut.
Arif memaparkan pemanfaatan tepung singkong dan APP Retardant yang tengah diuji untuk membantu memadamkan api di dalam tanah gambut, sehingga penanganan tidak hanya menyasar kobaran api di permukaan, tetapi juga bara api yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Baca juga: BRIN Tegaskan Kesiapan Riset, Teknologi, dan SDM Energi Nuklir
Melalui dua pendekatan tersebut, yakni penyemaian awan menggunakan Dumakron dari udara serta pemadaman api bawah tanah menggunakan bahan yang dikembangkan BRIN, diharapkan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dapat dilakukan lebih menyeluruh. Upaya ini menjadi bagian dari pengembangan teknologi dan inovasi riset untuk mendukung pengendalian kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, BRIN juga mengembangkan produk deteksi titik panas (hotspot) dan pemetaan area terbakar berbasis citra satelit. Pemantauan turut didukung penggunaan drone thermal untuk membantu mengidentifikasi titik api dan memetakan wilayah terdampak. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya deteksi dini, pemantauan, serta penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. (eko-brint)
Editor : heddyawan