Ini pesan Mendagri Tito ke Kepala Daerah
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengingatkan, agar para kepala daerah untuk mewaspadai dan mengantisipasi potensi kenaikan harga telur ayam ras dan daging ayam, yang mulai terjadi seiring meningkatnya permintaan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Harga telur, daging ayam sudah mulai sedikit naik, itu salah satunya dikarenakan permintaan dari MBG yang cukup banyak,” ujar Tito di sela acara Indonesia Kita Awards 2025, di Jakarta, Senin (10/11/2025).
Baca juga: Eks Kepala BGN Jadi Tahanan Kejagung
Mendagri Tito berujar, pihaknya telah berkoordinasi dengan kepala daerah agar menjaga stabilitas harga di wilayah masing-masing. Selain itu, dirinya juga berkomunikasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mendorong peningkatan produksi dari para peternak ayam.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Pangan, kemudian dengan Menteri Pertanian untuk mendorong para peternak ayam untuk bisa memperbanyak produksi dan suplai mereka,” kata dia.
Baca juga: Sejak Dini Hari, Penyidik Kejagung Geledah Kantor BGN
Diketahui, berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga telur ayam ras per kilogram pada 6 Desember 2024, sebulan sebelum program MBG dimulai, tercatat Rp28.660 per kg. Namun, pada 7 Januari 2025, sehari setelah pelaksanaan MBG dimulai dan berdekatan dengan momen tahun baru, harga melonjak menjadi Rp32.790 per kg.
Setelah itu, harga sempat berangsur turun ke kisaran Rp28-29 ribu per kg, namun dalam tiga bulan terakhir kembali mengalami tren kenaikan. Pada 10 September 2025, harga telur tercatat Rp29.378 per kg, meningkat menjadi Rp30.255 per kg pada 10 Oktober, dan kini menyentuh Rp30.300 per kg per 10 November 2025.
Baca juga: Gonjang-Ganjing BGN. Presiden Prabowo Copot Dadan, Nanik Naik Tahta
Tito menegaskan, pemerintah akan terus memantau fluktuasi harga pangan strategis, terutama komoditas yang menjadi bahan utama program MBG, agar implementasinya tidak menimbulkan dampak inflasi di daerah. (pras)
Editor : heddyawan