Pasuruan – Kawasan Kota Wisata Prigen dijejali ribuan warga desa dan kelurahan, yang menggelar aksi damai. Massa aksi menolak pengalih-fungsian Hutan Tretes.
Koordinator aksi, Priya Kusuma mengatakan, jika kegiatan yang digelar mulai Minggu (29/3/2026) pagi itu, bukan yang kali pertama dan terakhir, pihaknya terus berupaya agar rencana alih fungsi hutan Tretes dihentikan segera.
Baca juga: Hari Lahir Pancasila. FPK Nganjuk Blusukan Budaya ke Situs Bersejarah
Priya bilang, seluruh warga Prigen menolak segala bentuk alih fungsi hutan, karena hutan merupakan pelindung benteng terakhir untuk kelestarian lingkungan.
“Hutan adalah pelindung dan benteng terakhir agar mata air tak berubah menjadi air mata,” cetus Priya, di sela aksi.
Senada dengan Priya, seorang peserta aksi, M Rochib menyebutkan, dirinya bersama dengan beberapa warga ambil bagian dalam kegiatan ini semata tetap ingin menjaga kelestarian hutan dengan mata airnya.
Hal tersebut akan menjadi bencana ketika hutan beralih fungsi yang tidak sesuai peruntukannya.
Baca juga: FPK Jatim Apresiasi Ritual Candra Sela di Nganjuk
“Kami berharap para pemodal dan pemerintah ikut memikirkan dampak yang ditimbulkan dari alih fungsi hutan ini,” ujar salah satu RT di Kelurahan Pecalukan.
Sementara itu, budayawan Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, menegaskan dirinya kurang sepakat terkait rencana alih fungsi hutan itu.
Menurut pria yang juga menetap di kawasan Prigen itu, mengakui jika alam, manusia dan kebudayaan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena ketiganya saling terkait.
Baca juga: FPK Jatim Dorong Dibuat Payung Hukum untuk Lembaga Adat Desa
Disebutkan, beberapa kegiatan kebudayaan memerlukan ‘ubarampe’ dari alam dan untuk pelestarian alam, diperlukan beberapa agenda kebudayaan, misal Selamatan Sumber, Sedekah Bumi dan lain sebagainya.
“Justru hubungan alam, manusia dan kebudayaan harus direvitalisasi, salah satunya dengan melakukan penyelamatan hutan dan sekaligus mata air,” urai Ki Bagong.
Selain long march dan orasi, aksi damai juga diisi aksi teatrikal dari Seniman Pasuruan. (kwan-knis)
Editor : heddyawan