Pelatihan Jurnalistik Batch#3. Kolab GMNI Surabaya Raya dan RLD Asah Nalar Kritis Berbasis Fakta

bukti.id
GMNI Surabaya Raya dibekali Pelatihan Jurnalistik Batch#3, kerja bareng DPC GMNI Surabaya Raya dan Rumah Literasi Digital (foto: RLD)

Surabaya, bukti.id – Kemampuan memverifikasi informasi, membaca kepentingan di balik kebijakan, dan menyusun kritik berbasis data menjadi bekal penting bagi kader gerakan mahasiswa di tengah maraknya hoaks dan pembentukan opini.

Pesan itu mengemuka dalam Pelatihan Jurnalistik Batch #3 yang digelar DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di The Alana Hotel Surabaya, baru-baru ini.

Baca juga: Sekolah Kader GMNI Surabaya. Tri Prakoso: Literasi, Pondasi Membaca Realitas yang Terjadi

Pelatihan bertema Merawat Nalar Kritis dalam Penulisan & Jurnalisme itu diikuti 28 peserta dari kalangan kader dan alumni GMNI. Kegiatan tersebut membekali peserta dengan keterampilan jurnalistik sekaligus kemampuan memilah informasi dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Bupati Nganjuk H Marhaen Djumadi dan Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Tri Prakoso menekankan pentingnya nalar kritis agar kader tidak sekadar menyampaikan pendapat, tetapi juga memahami persoalan secara utuh sebelum mengambil sikap.

Marhaen menilai, pembelajaran jurnalistik dapat memperluas kapasitas kader GMNI yang selama ini juga mempelajari propaganda dan agitasi. Menurut dia, kecakapan literasi diperlukan agar mahasiswa tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

“Banyak informasi yang mengandung hoaks, framing, maupun informasi dengan tujuan yang tidak jelas. Jika tidak memiliki kecakapan literasi dan kemampuan menyampaikan opini secara kritis, kita bisa terjerumus pada hal-hal yang kurang baik,” kata Marhaen.

Dia mendorong agar pelatihan serupa terus berlanjut dengan melibatkan Persatuan Alumni (PA) GMNI. Keterlibatan alumni, menurut dia, dapat membuka ruang pertukaran pengalaman, memperluas jejaring, dan memberikan inspirasi bagi kader yang sedang menjalani proses kaderisasi.

Marhaen berharap hubungan antara kader dan alumni tidak berhenti pada kegiatan formal, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang mendukung peningkatan kapasitas generasi muda.

Sedangkan Tri Prakoso mengingatkan, jika jurnalistik tidak hanya relevan bagi mereka yang berprofesi sebagai wartawan. Prinsip jurnalistik juga dapat membantu mahasiswa memahami situasi, menguji kebenaran informasi, serta menelusuri motif dan kepentingan di balik suatu peristiwa.

“Belajar jurnalistik tidak berarti kita harus menjadi wartawan. Lebih dari itu, jurnalistik merupakan sarana untuk melatih nalar kritis, membaca situasi, menguji informasi, dan memahami motif di balik sebuah peristiwa,” ujar Tri.

Tri menyebut masyarakat tengah menghadapi situasi yang dapat disebut sebagai perang pikiran, ketika informasi digunakan untuk membentuk opini dan memengaruhi cara pandang publik.

Baca juga: GMNI Surabaya Gandeng Rumah Literasi Digital, Cetak Mahasiswa Kritis Lewat Pelatihan Jurnalistik

Dalam kondisi tersebut, Tri menilai kader gerakan mahasiswa perlu membangun argumentasi berdasarkan data dan pemahaman terhadap persoalan.

“Kritik terhadap kebijakan, misalnya, seharusnya tidak berhenti pada penolakan, tetapi disertai penjelasan mengenai masalah yang dihadapi, pihak yang memperoleh manfaat, serta dampaknya bagi masyarakat,” ujar dia.

Tri juga mendorong peserta memadukan keterampilan jurnalistik dengan analisis akademik agar gagasan yang disampaikan memiliki dasar intelektual dan bukti yang memadai. Tujuannya bukan membela kelompok tertentu, melainkan memperjuangkan keadilan, agar kepentingan masyarakat dan pemerintah dapat ditempatkan secara proporsional.

Tri juga berharap kader GMNI mampu mengurai persoalan yang belum jelas, membaca kepentingan di balik kebijakan, dan menawarkan solusi berdasarkan fakta. Dengan begitu, kemampuan jurnalistik dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran kritis, bukan sekadar keterampilan memproduksi berita.

 

Lima Pemateri Bekali Peserta Keterampilan Media

Pelatihan yang diselenggarakan GMNI Surabaya Raya bersama RLD itu juga menghadirkan materi teknis untuk menjawab kebutuhan komunikasi di era digital. Peserta mempelajari penulisan artikel berbasis search engine optimization (SEO), foto jurnalistik, prinsip peliputan aman (save reporting), serta pembuatan dan pengelolaan konten media sosial.

Baca juga: Dukung Ekonomi Kreatif, ORADO Jawa Timur Ajak UMKM Produksi Perlengkapan Domino

Lima pemateri yang terlibat ialah Koordinator Pewarta Foto Indonesia (PFI) Wilayah Indonesia Timur Ali Masduki, Direktur RLD Andika Ismawan, praktisi AI Filmmaker RLD Deni Edi Santoso, pegiat media sosial Eko Edi Rangkutih, dan pengembang web RLD Fatchur Rohman.

Selain Marhaen dan Tri Prakoso, kegiatan tersebut menghadirkan Koordinator Bidang Invensi dan Inovasi BRIDA Jawa Timur Himawan Estu Bagijo, serta Ketua PGRI Jawa Timur H. Djoko Adi Waluyo sebagai pembicara utama.

Sekretaris Jenderal GMNI Surabaya Raya, Alif Susilo Yusuf Hadiwijoyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Dia bersyukur pelatihan berjalan lancar dan memberikan tambahan pengetahuan bagi 28 peserta.

Alif berharap kerja sama antara RLD, GMNI Surabaya Raya, dan The Alana Hotel Surabaya dapat berlanjut dalam jangka panjang. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas wawasan kader sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan kapasitas diri.

Melalui pelatihan jurnalistik ini, GMNI Surabaya Raya dan RLD berharap keterampilan jurnalistik dapat berjalan beriringan dengan penguatan nalar kritis. Bekal tersebut diharapkan membantu kader membaca persoalan sosial secara lebih mendalam, menguji informasi sebelum menyebarkannya, serta menyampaikan kritik dan gagasan dengan landasan fakta. (cebe)

Editor : heddyawan

Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru