Perkuat Mitigasi, BPBD Lamongan Petakan Sebaran Wilayah Terdampak Bencana

bukti.id
Bupati Yuhronur Efendi (paling depan) meninjau peralatan mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di Lamongan. (foto: diskominfo)

Lamongan, bukti.id – Meski durasi musim hujan diprediksi lebih singkat, fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027, membuat dinamika pola cuaca cenderung sulit diprediksi. 

Sangat beralasan jika Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, Jawa Timur, memetakan sebaran wilayah terdampak banjir, cuaca ekstrem, dan kekeringan sebagai dasar penguatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

Baca juga: Antisipasi Bencana Hidrometeorologi, Sidoarjo Siagakan Posko dan Peralatan

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan Samian, berdasarkan pemetaan terbaru, wilayah terdampak banjir meliputi tujuh kecamatan, yakni Deket, Glagah, Karangbinangun, Kalitengah, Turi, Kedungpring, dan Karanggeneng.

Sedangkan wilayah terdampak cuaca ekstrem tersebar di delapan kecamatan, meliputi Tikung, Ngimbang, Karanggeneng, Kalitengah, Deket, Lamongan, Sukodadi, dan Bluluk.

"Untuk wilayah terdampak kekeringan tersebar di 16 kecamatan, yakni Bluluk, Sarirejo, Ngimbang, Pucuk, Karangbinangun, Deket, Glagah, Modo, Kembangbahu, Sambeng, Mantup, Lamongan, Tikung, Brondong, Kedungpring, dan Sugio," kata Samian di Lamongan, Jumat (6/11/2026).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dengan memetakan wilayah rawan bencana berdasarkan evaluasi kejadian tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan upaya mitigasi dan penanganan bencana berjalan lebih terarah, terpadu, dan efektif.

Hal tersebut selaras dengan komitmen yang ditegaskan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, saat Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Lamongan bertema Sinergi Mewujudkan Lamongan Tangguh, di Alun-Alun Lamongan, Kamis (5/11/2026). 

Baca juga: Lamongan Normalisasi 262 Titik Kali Antisipasi Bencana Hidrometeorologi

Yuhronur menyatakan, apel kesiapsiagaan menjadi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa seluruh unsur pemerintah daerah bersama TNI dan Polri telah siap mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana hidrometeorologi.

“Dari belajar tahun-tahun sebelumnya, kita petakan daerah-daerah maupun tempat-tempat yang merupakan titik rawan bencana. Sekaligus kita siapkan rencana mitigasinya,” ujar Yuhronur saat kegiatan apel.

Yuhronur menilai, pemetaan wilayah rawan menjadi langkah awal untuk menentukan strategi penanganan bencana, sekaligus memastikan kesiapan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan jajaran terkait dalam menghadapi potensi bencana. 

Selain pemetaan, Yuhronur menekankan pentingnya koordinasi dan komunikasi antarlembaga agar penanganan bencana dapat dilakukan secara terpadu. Sinergi seluruh instansi dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat kesiapsiagaan daerah. 

Baca juga: Dukung Pertanian di Sambeng, Lamongan Bangun Embung Wono Tirto Lestari

“Kita ingin memastikan seluruh OPD melakukan koordinasi dan komunikasi yang baik, sehingga penanganan bencana dilakukan secara terpadu. Dengan kolaborasi, kesiapsiagaan kita semakin mantap,” kata dia.

Yuhronur turut menyoroti pentingnya perlindungan keselamatan personel yang bertugas di lapangan. Belajar dari pengalaman penanganan bencana sebelumnya, petugas harus dilengkapi alat pelindung diri sesuai risiko pekerjaan.

“Selain peralatan mitigasi bencana, keselamatan personel juga harus diperhatikan. Pengalaman sebelumnya, seperti saat terjadi kebakaran di Kembangbahu, ada petugas yang tidak dilengkapi masker maupun oksigen. Ini menjadi evaluasi agar ke depan keselamatan petugas benar-benar diperhatikan,” tutup Yuhronur. (benny-heddy)

Editor : heddyawan

Pemerintahan
Berita Populer
Berita Terbaru