x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

Peneliti Rekonstruksi Sejarah Erupsi Gunung Api Berdasar Karakterisasi Endapan Material Vulkanik

Avatar bukti.id

Peristiwa

Bandung, bukti.id – Material vulkanik seperti lava, bom vulkanik, skoria, batu apung, hingga abu vulkanik memiliki karakteristik masing-masing yang dapat merekam proses erupsi di masa lalu. 

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Nurfiani menjelaskan, riset dan kajian geologi mengenai material vulkanik sangat penting untuk memahami perilaku gunung api dengan mempelajari endapan batuan hasil letusan di masa lalu.

“Pada intinya, semua itu dikumpulkan untuk merekonstruksi sejarah dan perilaku gunung api di masa lalu,” jelas Dini dalam kegiatan “Public Exhibition: Setanah Tak Diam” di Selasar Soenaryo Art Space, belum lama ini.

Dini menyebut, penelitian vulkanologi tidak hanya berkaitan dengan pengamatan aktivitas gunung api saat ini, tetapi juga mempelajari rekaman geologi untuk memahami perilaku gunung api pada masa lalu. 

Pengetahuan tersebut kemudian digunakan dalam penilaian bahaya vulkanik dan penyusunan berbagai skenario berbasis penelitian (research-based scenarios) yang mungkin terjadi di masa mendatang. Hasil kajian tersebut, peneliti dapat merekonstruksi sejarah erupsi, termasuk jenis, skala, interval, serta karakter erupsi yang pernah terjadi. 

Salah satu contohnya dapat ditemukan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bandung, yaitu Gua Jepang dan Gua Belanda, yang merupakan endapan batuan dari letusan dahsyat Gunung Sunda pada masa lalu. 

Penelitian dilakukan melalui ekspedisi lapangan untuk mengamati singkapan dan mengambil sampel batuan. Sampel tersebut kemudian dianalisis, termasuk melalui pengamatan mikroskop dan analisis lanjutan, untuk mengetahui komposisi dan karakteristik material vulkanik.

Hasil rekonstruksi tersebut selanjutnya digunakan untuk menyusun skenario bahaya. Sebagai contoh, pada Gunung Tangkuban Parahu dapat disusun beberapa skenario, mulai dari erupsi kecil yang paling mungkin terjadi, peningkatan aktivitas vulkanik, hingga skenario letusan eksplosif dengan peluang lebih rendah tetapi berdampak besar. 

“Skenario tersebut bukan merupakan ramalan atau kepastian, melainkan gambaran kemungkinan berdasarkan bukti geologi dan kajian ilmiah,” ucap dia, dinukil akun brin.go.id, Rabu (9/09/2026).

Tahap berikutnya dilakukan melalui pemodelan numerik untuk memperkirakan persebaran bahaya, salah satunya abu vulkanik. Pada salah satu skenario (skenario 3 – peluang lebih rendah tetapi berdampak besar), akumulasi abu hingga sekitar 100 kg/m² dapat berpotensi menghasilkan lapisan abu sekitar 10 sentimeter di atap bangunan, dan meningkatkan risiko kerusakan apabila struktur atap tidak mampu menahannya. 

“Hasil pemodelan juga menunjukkan adanya kecenderungan persebaran abu ke arah barat daya, dengan wilayah Padalarang dan Bandung Barat termasuk area yang memiliki probabilitas lebih tinggi menerima akumulasi abu pada skenario tersebut,” jelas dia.

Diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung api yang cukup banyak. Kondisi tersebut membuat pemahaman terhadap perilaku gunung api menjadi penting, tidak hanya untuk menilai potensi bahaya, tetapi juga sebagai dasar dalam membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Menurut Dini, peningkatan pemahaman mengenai gunung api bukan dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan membangun kewaspadaan. 

Salah satu contoh, lokasi kegiatan Public Discussion ini berada di jarak sekitar 11–12 kilometer dari Gunung Tangkuban Parahu. Berdasarkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang dikeluarkan PVMBG, kawasan gunung api dibagi menjadi KRB 1, KRB 2, dan KRB 3 dengan tingkat potensi bahaya yang berbeda.

“Jadi, di sini tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kita, bukan menimbulkan ketakutan, tetapi untuk membangun kewaspadaan,” ujar dia.

Berdasarkan klasifikasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung api di Indonesia terbagi menjadi tipe A, B, dan C. Gunung api tipe A memiliki catatan sejarah erupsi setidaknya satu kali sejak 1600. 

Di Jawa Barat terdapat tujuh gunung api tipe A. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, karena Jawa Barat juga memiliki populasi sekitar 51 juta jiwa pada pertengahan tahun 2026 dan termasuk wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Dini juga berpesan, penelitian vulkanologi diharapkan dapat menjembatani pengetahuan ilmiah dengan tindakan kesiapsiagaan, sehingga masyarakat dapat hidup berdampingan dengan gunung api secara lebih waspada dan memahami potensi bahaya di lingkungannya. (eko-hedy)

Editor : heddyawan

Artikel Terbaru
Jumat, 30 Okt 2026 08:10 WIB | Hukum

PMII Desak Polda Jatim Tindak Tegas Pelaku Pengeroyokan di Kawasan PIER

PMII desak Polda Jatim tindak tegas pelaku pengeroyokan di Kawasan PIER. ...
Selasa, 27 Okt 2026 12:30 WIB | Ekonomi

Diskusi Publik Refleksi Dua Tahun Asta Cita. Dorong UMKM Lewati Tantangan untuk Naik Kelas

Refleksi Dua Tahun Asta Cita gelar diskusi publik untuk dorong UMKM lewati tantangan agar naik kelas. ...
Senin, 26 Okt 2026 21:18 WIB | Ekonomi

BRI HR Muhammad Surabaya Kenalkan BRImo dan Aset Lelang di Reuni Alumni UB

SURABAYA - BRI Branch Office (BO) HR Muhammad Surabaya memanfaatkan Reuni Alumni Universitas Brawijaya (UB) di Malang pada 24–25 Oktober 2026 untuk memperluas p ...
Minggu, 25 Okt 2026 17:10 WIB | Ekonomi

Manfaatkan Handphone. RLD Ajak UMKM Surabaya Dongkrak Penjualan Via Promosi Digital

RLD ajak UMKM Surabaya dongkrak penjualan lewat promosi digital memanfaatkan handphone. ...
Sabtu, 24 Okt 2026 19:30 WIB | Peristiwa

Sinergi Pemprov dan Pedagang Kaki Lima Didorong Berlanjutan

APKLI Jatim bakal gelar pelantikan DPW dan pengukuhan 38 DPD se-Jatim. ...
Senin, 19 Okt 2026 13:50 WIB | Peristiwa

Regenerasi Organisasi. Berharap Lakmud Jenggala Tumbuh Kader Masa Depan

PAC IPNI dan IPPNU Jabon adakan Lakmud Jenggala untuk cetak kader masa depan berpotensi. ...