Kembangkan bahan aktif antibakteri dari Temulawak berbasis nanoteknologi
Pekanbaru, bukti.id – Jangan pernah meremehkan potensi kekayaan hayati negeri ini. Curcuma xanthorrhiza alias temulawak, salah satunya yang patut dicermati manfaat dan faedahnya untuk kesehatan kita.
Seiring dengan itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tak henti mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia, sebagai sumber kandidat bahan baku obat melalui pendekatan riset dan teknologi. Upaya yang dilakukan yakni, mengembangkan bahan aktif antibakteri dari bahan alam dengan mengombinasikannya melalui teknologi formulasi berbasis nanoteknologi.
Baca juga: BRIN Minta Petani Waspadai Begomovirus yang Bisa Ancam Produksi Sayuran
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOOT) BRIN, Abdi Wira Septama menjelaskan, penelitian berfokus pada penemuan kandidat obat atau bahan aktif alami yang berpotensi menangani infeksi bakteri, terutama bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotik.
Menurut Abdi Wira, Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat besar dan berpotensi menjadi sumber pengembangan bahan aktif antibakteri. Potensi tersebut perlu terus dieksplorasi melalui penelitian untuk menemukan alternatif bahan baku obat dalam menghadapi persoalan resistensi antibiotik.
Salah satu bahan alam yang menjadi fokus penelitian adalah temulawak, tanaman obat tradisional Indonesia yang telah dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun.
Berdasarkan hasil skrining penelitian sebelumnya, minyak dan ekstrak temulawak menunjukkan potensi sebagai antibakteri. Hasil pengujian juga memperlihatkan bahwa kedua bahan tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotik.
Baca juga: BRIN Gandeng BNI Ventures. Bantu UMKM dan Startup Berbasis Riset Tembus Pasar Komersial
Pengembangan selanjutnya dilakukan melalui pemanfaatan teknologi formulasi berbasis nanoteknologi. Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan bahan aktif alam menjadi kandidat produk obat yang lebih optimal.
Selain menghasilkan kandidat bahan baku obat baru, penelitian tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus mendukung kemandirian bahan baku obat nasional.
Dengan dukungan riset dan penguasaan teknologi formulasi, kekayaan alam Indonesia diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Baca juga: BRIN Perkuat Stasiun Satelit untuk Mitigasi Bencana
Upaya tersebut juga dinilai penting dalam memperkuat kesiapan nasional menghadapi kebutuhan obat, termasuk ketika terjadi pandemi maupun peningkatan kasus penyakit infeksi.
Melalui pengembangan riset bahan alam dan teknologi nanoteknologi, BRIN terus mendorong potensi keanekaragaman hayati Indonesia agar dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan obat nasional. (eko-brint)
Editor : heddyawan