x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

Capres-cawapres Bakal Muncul dari Tiga Poros Koalisi Parpol

Avatar bukti.id

Pemilu

Jakarta, bukti.id – Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) masih tiga tahun ke depan. Namun, sudah bersliweran nama-nama tokoh yang diprediksi bakal menjadi pasangan Calon Presiden (capres) dan Calon Wakil Presiden (cawapres), melalui sejumlah poros kekuatan partai politik (parpol).
Bahkan bermunculan rilis beberapa lembaga survei terkait elektabilitas sejumlah tokoh yang digadang-gadang jadi pasangan capres-cawapres.
Di mata seorang pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, sebenarnya Indonesia memiliki capres potensial yang melimpah.
“Namun, mesti realistis. Karena dalam sistem politik ada pemberlakuan ambang batas presidential threshold (PT) 20 persen. Dengan PT 20 persen akan menjadi penghalang sehingga tokoh-tokoh potensial tersebut akan layu sebelum berkembang,” ujar Pangi, dalam keterangannya, Senin (31/5/2021).
Menurut Pangi, kondisi demikian pada akhirnya akan membunuh talenta-talenta potensial, dan menyisakan ruang permainan hanya berputar-putar pada permainan tingkat partai papan atas, sebagai otoritas pemegang kendali pemberian tiket pencapresan pada siapa diinginkan melalui lobi-lobi politik belakang layar.
Pria yang kesehariannya sebagai Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu berujar,”Tiket itu menjadi otoritas partai politik. Pun, elektabilitas racikan elektoral yang tinggi seakan-akan percuma,”.
Dijelaskan, merujuk pemilu sebelumnya, maka dipastikan otoritas tiket hanya akan dimonopoli parpol-parpol papan atas.
“Sehingga nama-nama yang berseliweran hari ini pada lembaga lembaga survei hanya akan menjadi hiasan di pemberitaan media, dan akan hilang bahkan sebelum pestanya dimulai,” tukas Pangi.
Elektabilitas, sergah Pangi, bukan kunci mendapatkan tiket pencapresan. Meski Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, atau Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tinggi, namun tetap parpol yang menentukan nama-nama yang diusung.
“Adanya president threshold 20 persen, elektabilitas dan popularitas terkadang tak punya korelasi linear terhadap proses pencapresan, kalau pun iya tapi tidak menjadi faktor mutlak, itu bisa jadi bonus,” ucap Pangi.
Dengan kondisi tersebut, Pangi menilai bukan tidak mungkin nanti ada figur capres bukan berlatarbelakang kepala daerah, menteri, atau ketua umum.
“Saya pikir nanti akan ada juga capres kaget, publik terkaget bahkan bukan tidak mungkin nama-nama capres di luar cluster kepala daerah, menteri dan ketua umum parpol,” jelas Pangi.
Simulasi capres, menurut Pangi, hanya akan berputar-putar pada partai-partai itu-itu saja karena bisa memenuhi PT. Hal ini lantaran sistem pemilu yang membatasi ruang gerak capres potensial.
Pangi mencontohkan,“Semisal PDIP, Gerindra dan Golkar, sisanya gabungan partai papan tengah Itupun kalau tidak ada koalisi gemuk yang menggembosi partai papan tengah,”.
Menurut Pangi, bila ingin sesuatu yang baru dan Pilpres 2024 lebih atraktif maka presidensial threshold harus dihapuskan. Namun, bila dengan PT 20 persen maka diprediksi akan ada tiga poros koalisi di Pilpres 2024.
“Perkiraaan saya bakal ada tiga poros nanti cukup potensial pada Pilpres 2024,” ujar Pangi.
Poros pertama, yaitu koalisi PDI Perjuangan-Gerindra-PKB, dengan simulasi mengusung pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani.
Selanjutnya, kata Pangi, poros kedua diisi koalisi NasDem-PKS-Demokrat, dengan simulasi pasangan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Kemudian, poros ketiga yakni koalisi alternatif Golkar-PPP-PAN, dengan simulasi pasangan seperti Airlangga Hartarto, Erick Tohir.
“Terlepas dari partai mana yang nanti meminangnya menjadi capres termasuk nama Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil,” kilah Pangi.
Pangi bilang, selama ini dalam koalisi politik, lebih kuat DNA berbasiskan kekuasaan pragmatis ketimbang ideologis. Namun, tetap harus mendorong lebih dari dua pasang calon presiden.
Pangi merujuk data survei Voxpol Center bahwa sebesar 40,6 persen ingin Pilpres 2024 diikuti lebih dari 2 pasang capres/cawapres. Atau bisa memunculkan sebanyak mungkin capres alternatif, meskipun terbentur PT 20 persen.
“Jangan sampai terulang rematch pilpres bipolar, akibatnya keterbelahan publik makin menganga lukanya, karena nggak ada capres alternatif sebagai pemecah gelombang dua kutub tersebut,” harap Pangi. (hed)

Editor : heddyawan

Artikel Terbaru
Minggu, 18 Okt 2026 13:30 WIB | Peristiwa

BRIN Dorong Energi Terbarukan agar Kualitas Hasil Panen dan Tangkapan Ikan Optimal

BRIN dorong pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung proses pascapanen di sektor perkebunan dan perikanan. ...
Minggu, 18 Okt 2026 10:25 WIB | Peristiwa

Pelatihan Jurnalistik Batch#3. Kolab GMNI Surabaya Raya dan RLD Asah Nalar Kritis Berbasis Fakta

Pelatihan Jurnalistik Batch #3 kolaborasi DPC GMNI Surabaya Raya dan Rumah Literasi Digital di The Alana Hotel. ...
Minggu, 18 Okt 2026 08:15 WIB | Hukum

Kasus Korupsi Bupati Klaten. KPK Sita Tong Biru Berisi Uang Rp934 Juta

Drama lanjutan OTT di Klaten, penyidik KPK sita sebuah tong biru yang berisi uang Rp934 juta. Uang hasil korupsi? ...
Minggu, 18 Okt 2026 07:42 WIB | Ekonomi

Warga Jawa Timur Tak Perlu Cemas Soal BBM. Wagub Emil Pastikan Stok Aman

Wagub Emil: stok BBM di Jawa Timur dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. ...
Minggu, 18 Okt 2026 05:10 WIB | Ekonomi

Pemkab Lamongan Yakin, 2026 Produksi Padi Melimpah

Pada 2026, Pemkab Lamongan yakin mampu menghasilkan produksi padi melampaui capaian tahun sebelumnya, mencapai sekitar 1,335 juta ton. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 19:10 WIB | Peristiwa

Dai Sejuta Mimbar. Kerja Bareng BRIN dan BPKH

BPKH dan BRIN 'lahirkan' Dai Sejuta Mimbar, yakni edukasi rencana haji dan dakwah pakai platform digital. ...