x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

BPS Catat Harga Gabah Turun di Tingkat Petani

Avatar bukti.id

Ekonomi

Lebih miris lagi, nilai tukar petani juga kembali anjlok

Jakarta, bukti.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pergerakan harga gabah kering panen (GKP) di petani anjlok hingga 6,82 persen sepanjang April 2020. Penurunan tersebut melanjutkan turunnya harga GKP pada Maret 2020 yang sebesar 4,64 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, dari penurunan tersebut harga GKP di tingkat petani rata-rata dihargai Rp4.000 perkilogram (kg), turun dari bulan sebelumnya sebesar Rp4.903 perkg.

Penurunan yang sama juga terjadi di tingkat penggilingan. Harga GKP di penggilingan pada April 2020 turun 6,73 persen menjadi Rp4.692 perkg dari bulan, sebelumnya Rp5.030 per kg.

"Masih terdapat panen raya padi di beberapa tempat sehingga harga gabah dari petani turun," kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2020).

Disampaikan, dengan turunnya harga gabah, secara langsung berdampak kepada pergerakan harga beras. BPS mencatat, di tingkat penggilingan, beras kualitas premium turun 0,64 persen menjadi Rp10.018 per kg.

Adapun kualitas medium turun 1,58 persen menjadi Rp9.671 per kg serta beras di luar kualitas turun 0,59 persen menjadi Rp8.989 per kg.

Turunnya harga gabah dalam masa panen selama April 2020 berbanding lurus dengan penurunan nilai tukar petani (NTP).

Suhariyanto memaparkan, NTP sepanjang bulan April 2020 turun 1,73 persen menjadi 100,32. Penurunan terjadi di seluruh sub sektor usaha pertanian.

Sementara, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) juga ikut menurun 1,72 persen menjadi 101,13. Baik NTP maupun NTUP, melanjutkan tren penurunan yang terjadi sejak bulan Februari 2020.

"Nilai di semua sub sektor turun cukup dalam. Penyebabnya karena indeks harga yang diterima petani turun, sedangkan indeks harga yang dibayarkan petani mengalami kenaikan. Ini kembali karena sedang memasuki panen raya," ujar dia.

Pihaknya mengingatkan pemerintah di tengah penurunan harga saat ini, kelancaran distribusi tetap harus dijaga dari daerah sentra produksi ke non sentra produksi.

Suhariyanto mencontohkan, provinsi sentra produksi yang tengah mengalami surplus beras yakni Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan.

"Kalau kita jaga kelancaran distribusi ini, harga akan terus stabil dan tidak menimbulkan inflasi," ujar dia. (hea)

Editor : Redaksi

Artikel Terbaru
Sabtu, 17 Okt 2026 19:10 WIB | Peristiwa

Dai Sejuta Mimbar. Kerja Bareng BRIN dan BPKH

BPKH dan BRIN 'lahirkan' Dai Sejuta Mimbar, yakni edukasi rencana haji dan dakwah pakai platform digital. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 15:10 WIB | Peristiwa

Awas, Jukir mBetik Bakal Disanksi. Pemkab Sidoarjo Seriusi Parkir DigitalĀ 

Oknum jukir nakal di Sidoarjo bakal disanksi, seiring penerapan parkir digital. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 14:42 WIB | Ekonomi

Petikemas Internasional TTL Melonjak 78,69 Persen, Tembus 389 Ribu TEUs

Arus petikemas internasional Terminal Teluk Lamong mencapai 389.682 TEUs hingga Agustus 2026, meningkat 78,69 persen secara tahunan. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 08:48 WIB | Pendidikan

Unibraw dan BRIN Ubah Limbah Pertanian Jadi Produk Kimia Bernilai Tambah

UB dan BRIN kolab kembangkan limbah pertanian jadi produk kimia. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 06:40 WIB | Peristiwa

Terminal Teluk Lamong Surabaya Raih Prestasi Internasional

Dalam ajang GPF Awards 2026 Singapura, anak perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas, PT Terminal Teluk Lamong sukses meraih dua penghargaan. ...
Sabtu, 17 Okt 2026 05:05 WIB | Peristiwa

Bunda Jelita, Tak Sekedar Berburu Tren. TP PKK Surabaya Bakal Dampingi Keluarga Bumil Hingga Lahiran

Pemkot dan TP PKK Surabaya dampingi keluarga Bumil hingga lahiran lewat Bunda Jelita. ...