x bukti.id skyscraper
x bukti.id skyscraper

Tak Ada Kata Toleransi untuk Bullying di Sekolah

Avatar bukti.id

Wakil Rakyat

Legislator: Picu trauma dan balas dendam

Jakarta – Praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah merupakan fenomena serius yang tidak bisa ditoleransi. Penegasan ini disampaikan Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Hetifah menyebut dampak dari perundungan bisa sangat ekstrem, bahkan mendorong korban melakukan tindakan di luar nalar, sebagaimana yang diduga terjadi dalam insiden di SMAN 72 Jakarta baru-baru ini.

“Ketika seorang siswa menjadi korban bullying, dampak psikologisnya bisa sangat dalam sehingga mendorong tindakan yang tidak rasional,” ujar dia.

Legislator Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) itu menekankan, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan membentuk karakter positif bagi peserta didik, bukan justru melahirkan trauma atau rasa takut. Upaya mencegah praktik perundungan harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga orang tua.

“Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan sebenarnya telah menginisiasi program pencegahan yang berfokus pada pemberdayaan siswa untuk menjadi agen perubahan dan pemimpin dalam menciptakan iklim anti-perundungan di sekolahnya sendiri,” tandas dia.

Meski demikian, Hetifah mengingatkan bahwa sekolah tetap memiliki tanggung jawab utama dalam menegakkan aturan dan menciptakan mekanisme pelaporan yang aman bagi siswa.

“Sekolah harus mendorong siswa untuk saling mendukung, berani melapor kepada guru bila melihat kasus perundungan, dan memperkuat peran guru agar bisa mengidentifikasi serta menangani kasus dengan tepat,” ujar dia.

Dirinya juga menyoroti pentingnya peran keluarga dalam pencegahan bullying.

“Para orang tua memiliki peran kritis dalam menciptakan komunikasi yang terbuka dengan anak, memantau perilaku mereka, dan menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat. Kerjasama dan sinergi antara sekolah, orang tua, dan program pemerintah diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua siswa,” tambah dia.

Dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan program pemerintah, Hetifah berharap lahir lingkungan belajar yang benar-benar aman, inklusif, dan menumbuhkan rasa empati di kalangan siswa. (hari)

Editor : heddyawan

Artikel Terbaru
Minggu, 19 Jul 2026 08:34 WIB | Peristiwa

Tokoh Penggerak UMKM Ari Prabowo Berjanji Sinergikan Pariwisata dan UMKM

Jadi Ketum GEMI, Ari berjanji sinergikan pariwisata dan UMKM. ...
Sabtu, 18 Jul 2026 11:42 WIB | Peristiwa

Sah. Ari Prabowo Terpilih Jadi Ketum MANTRA periode 2026–2031

Munas I MANTRA sepakat memilih Ari Prabowo sebagai Ketum MANTRA periode 2026-2031. ...
Sabtu, 18 Jul 2026 08:08 WIB | Peristiwa

MANTRA Gelar Munas I di Surabaya. Fokus Tingkatkan Kualitas SDM Konstruksi

Munas I Mantra momen penting bagi pekerja konstruksi Indonesia. ...
Jumat, 17 Jul 2026 05:10 WIB | Peristiwa

Urai Kemacetan Gedangan. Sidoarjo Bakal Miliki Flyover di Lokasi ini

Urai kemacetan di Gedangan, Pemkab Sidoarjo bakal bangun flyover. ...
Jumat, 17 Jul 2026 04:05 WIB | Hukum

Beli Solar Subsidi Ber-barcode Kerjasama Operator SPBU, Hendrik Setiawan dan Rudi Agus Jalani Sidang

Sidang perkara pembelian BBM solar subsidi, majelis hakim pertanyakan status operator SPBU. ...
Kamis, 16 Jul 2026 05:10 WIB | Hukum

Buat Transaksi Keuangan Fiktif SD Kristen Cita Hati Pakuwon, Goli Korlita Jadi Terdakwa

Merekayasa transaksi fiktif, Goli Korlita jadi terdakwa di PN Surabaya. ...