Menbud Dorong Daya Saing Perfilman Nasional di Tingkat Global
Manfaatkan teknologi XR
Jakarta – Pemanfaatan teknologi Extended Reality (XR) dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional, sekaligus meningkatkan daya saing industri kreatif Indonesia.
Itulah penilaian yang diungkapkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon terhadap perfilman tanah air, dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah insan film nasional.
Dengan dorongan pemanfaatan teknologi XR dan penguatan konten berbasis ide, pemerintah berharap industri perfilman nasional dapat berkembang lebih inovatif, efisien, dan kompetitif di tingkat global.
Fadli menekankan pentingnya pengembangan konten film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan inspiratif, terutama yang mengangkat tema sains dan teknologi.
“Kita perlu mendorong lahirnya karya-karya bertema STEM yang dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat sekaligus memperkuat daya saing budaya Indonesia,” ujar Fadli dalam keterangan resmi, Jumat (10/4/2026).
Indonesia, kata Fadli, memiliki kekayaan sumber cerita yang besar dan beragam, mulai dari tokoh ilmuwan hingga sejarah panjang peradaban Nusantara yang dapat diangkat menjadi karya film berkualitas.
“Selain teknologi yang mumpuni, kita juga perlu perkuat ide dan jalan cerita sebagai fondasi utama, yang kemudian didukung oleh pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan kualitas film yang optimal,” tambah dia.
Dalam pertemuan tersebut, produser Dendi Reynando dan sutradara Upie Guava memaparkan pengembangan film Pelangi di Mars, sebuah proyek fiksi ilmiah anak yang mengusung teknologi XR.
Upie bilang, film ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan akan tontonan anak Indonesia yang berkualitas sekaligus mampu mendorong imajinasi. Teknologi XR yang digunakan telah melalui proses riset dan pengembangan selama sekitar tiga tahun, termasuk pembangunan studio dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Teknologi XR memberikan fleksibilitas tinggi dalam proses produksi film. Dengan XR, sutradara dapat bereksperimen dan berimajinasi secara lebih luas tanpa dibatasi oleh kendala biaya produksi konvensional,” urai dia.
Tokoh lain, Dendi menegaskan bahwa Pelangi di Mars tidak hanya dikembangkan sebagai film, tetapi juga sebagai bagian dari strategi penguatan intellectual property (IP) lokal yang berkelanjutan. Karakter dalam film tersebut tengah diarahkan untuk dikembangkan ke berbagai produk turunan dan lisensi, sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih luas di pasar nasional.
Dendi juga menyoroti potensi besar teknologi XR untuk produksi film dengan latar kompleks, termasuk film sejarah.
“Teknologi ini memungkinkan kita menghadirkan berbagai latar, termasuk masa lampau dalam film sejarah, tanpa memerlukan pembangunan set fisik berbiaya besar. Selain itu, pemanfaatan teknologi juga dapat menghadirkan alternatif tontonan yang lebih beragam kepada masyarakat,” papar Dendi. (awan)
Editor : heddyawan